Mbah Dalhar Watucongol, Kenapa terkenal?

KH. Nahrowi Dalhar
(12 Januari 1870 – 8 April 1959)
Ulama, mursyid, sufi, dan pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Kelahiran dan Silsilah Keluarga.

KH. Nahrowi Dalhar lahir pada 10 Syawal 1286 H bertepatan dengan 12 Januari 1870 Masehi di Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pada saat lahir beliau diberi nama Nahrowi oleh orang tuanya. Keluarganya berasal dari lingkungan pesantren yang taat, dan silsilahnya bahkan tersambung hingga kepada Susuhunan Amangkurat III dari Kasunanan Kartasura, karena kakeknya, K. H. Hasan Tuqo, adalah keturunan ningrat dan salah seorang panglima dalam Perang Diponegoro. Ayahnya bernama K. H. Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Pendidikan Awal dan Masa Muda.

Sejak kecil, Nahrowi Dalhar sudah dipersiapkan dalam lingkungan ilmu agama. Ia belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar pengetahuan Islam dari ayahnya sendiri. Pada usia 13 tahun, beliau mulai mondok di pesantren, belajar ilmu tauhid di bawah bimbingan Mbah Kiai Mad Ushul di Mbawang, Magelang selama kurang lebih dua tahun.

Kemudian pada usia 15 tahun, beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen, di bawah asuhan Syeikh As-Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani (lebih dikenal sebagai Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani), dan mengabdi di ndalem sang Syaikh selama delapan tahun.

Rihlah Ilmiyyah ke Tanah Suci.

Pada tahun 1314 H / 1896 M, atas permintaan gurunya, Kiai Nahrowi Dalhar berangkat ke Makkah Al-Mukarramah bersama putra sang Syaikh, Sayyid Abdurrahman al-Jilani al-Hasani, untuk menuntut ilmu. Di Tanah Suci, kedua murid tinggal di rubath (asrama santri) kawasan Misfalah dan belajar kepada Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani, yang saat itu merupakan Mufti Mazhab Syafi’i. Di Mekah beliau menghabiskan waktu belajar selama hampir 25 tahun, mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, terutama dalam tarekat dan sufisme. Dari masa inilah beliau menerima gelar “Dalhar”, sebuah nama yang diberikan oleh gurunya Syeikh Babashol, sehingga beliau lebih dikenal sebagai Nahrowi Dalhar.

Selama di Tanah Suci, beliau juga memperoleh ijazah kemursyidan Thariqah Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah amalan Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin Al-Madani. Dua ijazah inilah yang kelak menjadi bagian praktik spiritual utama beliau yang sangat dipelajari para muridnya.

Pengasuhan Pesantren dan Karya.

Setelah kembali ke nusantara, KH. Nahrowi Dalhar dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darussalam di Watucongol, serta sebagai guru ulama dan mursyid sufistik yang dihormati. Beliau banyak menulis karya-karya keagamaan, salah satunya kitab berbahasa Arab tentang manaqib tarekat, berjudul Tanwirul Ma’ani.

Dalam kapasitasnya sebagai mursyid Syadziliyah, beliau menurunkan ijazah kemursyidan kepada sejumlah murid terkemuka di nusantara, termasuk Kiai Iskandar (Salatiga), KH Dimyathi (Banten), dan KH Ahmad Abdul Haq. Beliau juga menjadi guru bagi banyak kiai pesantren besar di Indonesia pada masa awal abad ke-20.

Peran Sosial dan Spiritualitas.

KH. Dalhar dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sosok yang dihormati masyarakat karena ketakwaan, keteladanan, dan karomah spiritual. Kisah-kisah yang berkaitan dengan keistimewaan spiritual beliau, termasuk kebiasaan dzikir dan riyadhah, menjadi bagian dari tradisi tarekat di Watucongol hingga saat ini.

Akhir Hayat

Setelah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, KH. Nahrowi Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1378 H, atau bertepatan dengan 8 April 1959 Masehi. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Haul dan peringatan wafatnya rutin diperingati oleh para santri dan masyarakat umum setiap tahunnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERBEDAAN RUKUN QOLBI, QOULI DAN FI'LI

Langkah menulis Biografi

Latihan Asking for Attention and Showing Attention