Nomofobia, apaan tuh???

 

Mengenal Nomofobia bagi Guru

Guru SMPN 42 Jakarta
zoom-in-white
Teknologi saat ini berkembang begitu pesatnya hal tersebut membawa banyak perubahan bagi manusia. Kita sudah terbiasa melakukan sesuatu secara manual kini harus semuanya dilakukan dengan melibatkan teknologi. Suka tidak suka kita harus belajar dalam segala sesuatu yang melibatkan teknologi. Perkembangan teknologi ini tidak melihat batasan usia, profesi dan lainya. Guru sebagai salah satu profesi yang berdampak dalam perkembangan teknologi sehingga mau tidak mau harus belajar menggunakan teknologi yang ada terutama dalam kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.
Handphone merupakan alat yang dibutuhkan dalam mengakses setiap informasi secara umum, Dengan alat ini lah guru melakukan seluruh aktivitas nya seakan teknologi ini sudah berada dalam genggaman seorang guru. Terkadang lebih kita lebih panik ketika handphone ini tertinggal dari pada benda lain yang sering kita gunakan. Untuk saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan yang wajib bagi guru terutama dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Begitu ketergantungannya guru dalam menggunakan handphone ini sehingga seolah alat ini menjadi sesuatu yang berharga dan melebihi segalanya. Namun ada dampak negatif dari penggunaan handphone ini yang luput dari kita yaitu penyakit nomofobia. Sebuah istilah baru yang belum semua orang mengetahui bahkan seorang guru tidak luput dari penyakit Nomofobia.
Nomofobia merupakan singkatan dari no mobile phone phobia. Istilah ini sesuai dengan namanya, nomofobia merupakan kondisi dimana seseorang merasa ketakutan atau cemas secara berlebihan ketika mereka tidak lagi bisa menggunakan handphonenya, seperti yang terlihat dalam beberapa keadaan diantaranya tidak tersedia jaringan seluler, ponsel kehabisan baterai, atau kehilangan ponsel. Ketika hal ini dibiarkan terlalu lama maka dapat mengganggu kemampuan komunikasi face to face karena seseorang dengan nomofobia akan membuat kita mengisolasi diri dengan menggunakan ponsel pintar. Mereka lebih suka berkomunikasi dan memperoleh informasi melalui handphone yang dilakukan secara online.
Nomofobia ini kemungkinan besar disebabkan karena meningkatnya ketergantungan seseorang pada teknologi serta kekhawatiran akan apa yang terjadi jika seseorang tiba-tiba mereka tidak bisa mengakses informasi yang dibutuhkan. Para ahli belum menemukan penyebab nomofobia ini secara detail. Namun, hal tersebut dapat memunculkan ketakutan akan perasaan terisolasi dianggap memiliki peran dalam timbulnya nomofobia.
Ada beberapa hal dari gejala yang biasanya terkait dengan ketakutan yang disebatkan karena nomofobia ini, yaitu karena ketidakinginan untuk mematikan ponsel, terlalu sering mengecek notifikasi handphone, selalu mengisi daya ponsel walaupun perangkat tersebut masih hampir penuh, merasa takut yang berlebih jika tidak bisa tersambung dengan wifi atau tidak punya jaringan seluler yang memadai, dan melewatkan aktivitas atau rencana yang sudah dibuat berubah menjadi aktivitasnya hanya untuk menghabiskan waktu dengan ponsel. Jika kita merasakan salah satu atau semua gejala nomophobia tersebut dan merasakan ponsel telah menjadi sumber masalah dalam kehidupan kita, sebaiknya kita disarankan untuk mencari bantuan profesional untuk bisa terlepas dari keterikatan dengan handphone tersebut.
Handphone ini memang memberikan banyak manfaat dan membantu proses pembelajaran buat guru. Namun untuk nomofobia ini harus segera kita antisipasi agar tidak berlarut-larut dan berlebihan. Perlu komitmen pribadi untuk terbiasa tidak menggunakan handphone agar bisa mengurangi ketergantungan terhadap handphone ini.
Terakhir penulis mengutip sebuah ungkapan dari silvarani yaitu Teknologi itu diciptakan untuk mempermudah hidup orang lain, kan? Bukan hanya membuat orang jadi tambah susah. Jadi semua kembali kepada kita sebagai guru untuk mau menggunakan teknologi secara bijak atau kita diatur oleh teknologi.
Teks disadur sesuai aslinya dan dipublikasikan oleh Mr A Lee Whose Knee Trenggalek Meroket.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Latihan Asking for Attention and Showing Attention

PERBEDAAN RUKUN QOLBI, QOULI DAN FI'LI

WALIMATUL AQIQAH