HUSNUL KHATIMAH BUKAN KHUSNUL KHATIMAH
Dua kata sering kali kita dengar atau bahkan kita tulis ketika kita sedang mendengar kabar kematian maupun musibah yang mengakibatkan kematian. Seakan sudah menjadi tradisi di negeri ini. Tanpa kita sadari seringkali kita menulis kesalahan. Anehnya lagi, justru kesalahan tulis itu kita amini (baca: aamin) sebagai balasan chat WA/SMS maupun Media Sosial lainnyaa seperti FB, Twitter, Instagram, dll. Ya, kata
Husnul Khatimah dan Khusnul Khatimah Husnul Khatimah berdasarkan arti kebahasaan adalah meninggal dunia/akhir hidup di saat (dalam keadaan) yang terbaik; sedangkan Khusnul Khatimah adalah meninggal dunia/akhir hidup di saat (dalam keadaan) yang dihinakan/direndahkan. Husnul Khatimah adalah suatu kondisi dimana seorang -mukmin diberi taufiq oleh Allah sebelum datangnya kematian- untuk meninggalkan segala perbuatan yang mendatangkan murka Allah 'Azza wa Jalla, bersemangat melakukan ketaatan dan mengerjakan berbagai kebaikan kemudian dia menutup usianya dengan kebaikan. Sebaliknya, Khusnul Khatimah adalah suatu kondisi dimana seorang tidak meninggalkan
segala perbuatan yang mendatangkan murka Allah 'Azza wa Jalla, tidak melakukan ketaatan dan tidak mengerjakan berbagai kebaikan
kemudian dia menutup usianya dengan keburukan.¹
Rasulullah SAW. bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal.” Para sahabat bertanya; “Bagaimana membuatnya beramal?” Beliau menjawab: “Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
KEMATIAN ITU PASTI TERJADI
1. Kematian pasti menemuimu.
QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 8:
الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُم
"Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu"
Semakna dengan itu adalah firman Allah S.W.T. yang disebutkan di dalam QS. An-Nisa 4: Ayat 78, yaitu:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."
2. Janganlah mati kecuali dalam keadaan Muslim.
QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102:
وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
Barang siapa yang hidup menjalani suatu hal, maka ia pasti mati dalam keadaan berpegang kepada hal itu; dan barang siapa yang mati dalam keadaan berpegang kepada suatu hal, maka kelak ia dibangkitkan dalam keadaan tersebut.²
3. Mohon diwafatkan dalam keadaan Muslim.
QS. Yusuf 12: Ayat 101:
فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا
"(Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim"
Agar nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya di dunia ini terus berkelanjutan sampai ke hari akhirat, dan hendaknya mohon kepada Allah SWT. untuk mewafatkannya dalam keadaan Islam.
IKHTIAR AGAR HUSNUL KHATIMAH
Untuk mencapai akhir yang baik (husnul khatimah), maka seorang Mukmin harus berikhtiar untuk mendapatkannya antara lain:
1. Selalu mengingat Allah (dzikir).
QS. Ali Imran 3: Ayat 191:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring."
Mereka tidak pernah terputus dari berdzikir mengingat-Nya dalam semua keadaan mereka. Lisan, hati, dan jiwa mereka semuanya selalu mengingat Allah SWT.²
2. Memperbanyak doa.
QS. Ali 'Imran 3: Ayat 8:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu."
Yakni janganlah Engkau menjadikannya menyimpang dari petunjuk sesudah Engkau meluruskannya pada jalan hidayah. Dan janganlah Engkau jadikan kami seperti orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kesesatan, tetapi tetapkanlah (teguhkanlah) kami pada jalan-Mu yang lurus.²
3. Bersahabat dengan orang shalih.
QS. Al-Furqan 25: Ayat 28:
يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلً
"Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku),"
Agar tidak tergelincir ke dalam kesesatan seperti bergaul atau bersahabat dengan Fulan di atas, maka Mukmin harus bersahabat dengan orang-orang yang shalih_ yang akan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.
4. Berdakwah.
QS. Muhammad 47: Ayat 7:
اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Semakna dengan itu firman Allah QS. Al-Hajj 22: Ayat 40:
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya."
Karena sesungguhnya imbalan itu disesuaikan dengan jenis perbuatan dan amalnya.²
Termasuk bagian dari dakwah adalah menyampaikan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar).
KESIMPULAN
1. Husnul khatimah, akhir yang baik, yaitu kondisi dimana Allah SWT. memberi taufiq (untuk melaksanakan amal shalih) kepada seorang Mukmin sebelum ia meninggal dunia, sehingga akan dijauhkan dari azab api Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga.
2. Kematian merupakan hal yang pasti, dimanapun dan bagaimanapun ia berada akan menghampiri. Husnul khatimah dapat dicapai oleh seorang Mukmindengan selalu terjaga dari kesyirikan dan berikhtiar antara lain:
- selalu mengingat Allah (dzikir),
- memperbanyak doa,
- bergaul/bersahabat dengan orang-orang shalih dan berdakwah
Ditulis ulang dengan beberapa penambahan oleh Moh. Ali Husni
Trenggalek, 03032023
Referensi:
¹ Hidayattullah.com, 18-8-2016.
² Tafsir Ibnu Katsir.
___________
Disarikan dari:
Kajian ba'da Shalat Subuh oleh Ustadz Yunus Yulianzam MA, Masjid An-Nur, PPS-220418. Darmawan, Bekasi.
Berbagi ilmu, bila dianggap baik dan bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar