Koleksi Ayam Hutan Hijau
Koleksi Ayam Hutan Hijau, hobby, ternak atau bisnis kah???
oleh: Moh. Ali Husni (owner Satrio Farm)
Senja temaram di ufuk barat beranjak gelap dan semakin gelap, pertanda waktu Maghrib tiba. Terdengar kumandangnya suara Adzan bergema bersautan dari masjid sebelah rumahku. Bergegas aku memenuhi panggilan Ilahi untuk menunaikan shalat berjamaah.
Selepas kutunaikan kewajibanku, sejenak kulepas penatku setelah seharian bekerja. Kusandarkan bahuku di dinding teras masjid sambil menunggu datangnya waktu Isya’. Kusempatkan berkelekar dengan jamaah lainnya seputar pengalaman mereka bahkan ada yang curhat berbagai permasalahan. Teringatlah akan janjiku kepada temanku untuk melihat ayam hutan milik teman desa sebelah.
Bersegeralah aku utak atik HPku kucari nomor telponnya. Belum sempat aku pencet nomornya, ehhh… tiba-tiba kulihat ada sorot lampu sepeda motor menuju parkiran masjid. Pucuk dicinta ulampun tiba, ternyata yang datang temanku sengaja -mengantar anaknya mengaji di Pondok sebelah desa- hendak menemuiku menanyakan kapan bisa pergi ke rumah pemilik ayam hutan hijau tersebut.
Seketika aku mengajak ke sana sambil menikmati udara malam sekitar puncak Gunung Lanceng -wahana wisata yang menyajikan keelokan pemandangan sepanjang wilayah Kecamatan Watulimo dan Kampak- di Desa Dukuh. Ditemani terangnya pancaran cahaya rembulan purnama dan gemerlap bintang menambah indahnya suasana malam. Sesekali kutengok kiri-kanan betapa indahnya views malam dibawah kaki gunung. Suasana pegunungan pada malam hari terasa hening dan sejuk ditambah suara nyanyian binatang malam yang syahdu. Ketenangan jiwa amatlah terasa ketika perjalananku sampai di Perenaman Tumpak Waru.
Tubuhku terasa 'ces', bukannya takut ada hantu malam tetapi udara terasa lebih dingin ditambah kabut yang membatasi jarak pandang maksimal 5 meter saja. setelah melewati turunan jalan berkelok-kelok selama 5 menit sampailah di rumah pemilik ayam hutan tersebut. Jam dinding menunjukkan pukul 20.45.
Tuan rumahnya menyilakan aku masuk ke rumah, tetapi aku meminta diantar ke kandang ayam hutan duluan. Kunyalakan flash, sambil mengamati kondisi fisik ayam tersebut. Nah... ini baru hoki, gumamku dalam hati.
Dikarenakan waktu sudah larut malam, pinginku langsung saja aku bayari. ehhh...ternyata diruang tamu sudah disiapkan segelas kopi dan setoples Criping. Sambil menunggu dinginnya kopi, kunikmati cemilannya sambil sesekali kuteguk manisnya kopi pegunungan. Tak selang lama, kopi panaspun berubah menjadi dingin kalah dengan dinginnya cuaca malam itu.
Setelah habis kopiku, segera kuambil dompet di saku Jasketku, kuambil 9 lembar uang kertas 50.000an. Kubayar tunai. 'Deal,ya' ucapku sambil salaman. Pembayaran lunas, kudekati ayamnya dengan penuh kasih sayangnya sambil baca jompa-jampi Bahasa Nabi Sulaiman, ayam yang karakternya liar pun menjadi jinak. Segera kuraih kedua kakinya dan kumasukkan ke karung kain tanpa berontak.
Akupun segera mengajak pamit temanku dan sesampainya di rumah langsung kumasukkan kandang karantina. Alhamduluillah, bisa menambah koleksi ternakku di Satrio Farm.
Semoga bisa segera adaptasi.


Bermula dari postingan Warga Tulungagung, membuka kembali kran untuk memulai ternak Ayam Hutan Hijau. Tak tanggung-tanggung kubeli 2 ekor ayam piaraannya. Memang... ternak AHH penuh tantangan dan romantika bahkan problematika
BalasHapus